Langsung ke konten utama

Resume Jurnal Cost Benefit Analysis

 Cost Benefit Analysis (CBA) Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Susu Pada Karyawan di PT. Trisula Textile Industries Tbk Cimahi Tahun 2018

 

Sumber http://journal.fkm.ui.ac.id/jurnal-eki/article/view/2740

Milta Charennina

miltac31@gmail.com


Permasalahan

    Berdasarkan hasil studi pendahuluan sebanyak 280 pekerja (42,42%) dari jumlah seluruh karyawan 660 di PT.Trisula Textile Industries Tbk yang berada di beberapa departemen seperti DF (Dying Finishing), yaitu bertugas sebagai timbang obat, dengan waktu terpapar 7 jam nonstop (diselingi waktu istirahat) dengan shift 3x, sehingga pada tahun 2003 perusahaan dengan sadar membuat program untuk meminimalisir dampak zat kimia kedalam program perbaikan gizi karyawan pada pekerja dengan memberikan suplement susu sehat setiap hari kepada pekerja yangdi kenal dengan istilah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) susu pada karyawan.

Tujuan Jurnal

    Jurnal ini disusun bertujuan untuk melakukan analisis perhitungan investasi dengan menggunakan rumus diantaranya Payback Period, NPV, IRR, dan BCR yang bermanfaat dalam mengetahui kelayakan program dan pengambilan keputusan perusahaan.

Isi Jurnal 

    Cost benefit analysis pada penelitian ini adalah analisis yang membandingkan antara biaya (cost) dari suatu program PMT susu dengan output atau keuntungan (benefit) dari program kesehatan. Pada penelitian ini, cost mencerminkan biaya dari investasi program PMT, sedangkan keuntungan mencerminkan hasil dari sebuah program kesehatan PMT. Benefit yang dimaksud disini dapat bersifat netral, positif atau negatif yang bergantung dari hasil yang dicapai. Apabila diterapkan pada sebuah program kesehatan yang dapat meminimalisir zat racun pada pekerja, maka akan menghasilkan benefit yang positif. Sedangkan program kesehatan yang tidak manjur berarti tidak menghasilkan keuntungan (netral) atau bahkan dapat merugikan (benefit yang negatif).

    Dalam penelitian ini, asumsi benefit yang ditimbulkannya yaitu penurunan angka kesakitan, peningkatkan nilai produksi dan produktivitas tenaga kerja. Sedangkan asumsi cost yang ditimbulkannya adalah antara lain: biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli produk, beban biaya yang harus ditanggung dalam jangka waktu yang panjang biaya investasi (bahan baku susu), biaya pembelian bahan tambahan (gula), biaya operasional (gaji karyawan, biaya pembelian gas, biaya pembelian plastik, dan biaya pembelian kulkas).

    Hasil penentuan besaran nominal yang telah dilakukan program PMT susu didapatkan bahwa total manfaat (benefit) yang akan diterima yaitu penurunan angka kesakitan, peningkatan nilai produksi, dan produktivitas tenaga kerja adalah sebesar Rp.446.446.543.309,- lebih besar dari total biaya (cost) yang di keluarkan perusahaan dalam progam PMT susu antara lain, biaya langsung yang terdiri dari biaya pembelian susu, biaya pembelian bahan tambahan (gula pasir), dan biaya tidak langsung terdiri dari biaya gaji pegawai, biaya pembayaran listrik, biaya pembelian plastik, biaya pembelian gas, biaya pembelian kompor gas dan biaya pembelian kulkas.Rp.178.171.000,- sehingga nilai total manfaat (benefit) lebih besar dari total biaya (cost).

Simpulan

    Berdasarkan hasil perhitungan Net Present Value untuk mengetahui nilai uang sekarang pada program PMT susu didapatkan hasil akhir Rp. 23.534.448,76,-. Maka dapat disimpulkan bahwa program PMT susu diterima karena NPV > 0. 4. Berdasarkan hasil perhitungan rasio benefitcost, didapat rasio 2,50 yang berarti berada pada posisi ≥ 1 yang artinya program PMT susu tersebut dikatakan layak untuk tetap berlangsung

    Program PMT di Pabrik Trisula ini menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan karyawannya daripada biaya yang dikeluarkan untuk program PMT tersebut, sehingga program PMT ini layak untuk dilanjutkan dan ditingkatkan kualitasnya. Kebijakan program PMT yang diterapkan di PT Trisula ini memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan karyawan, terutama yang terpapar zat kimia. Penelitian ini memberikan hasil perhitungan dalam pengambilan keputusan untuk keberlangsungan suatu program kebijakan kesehatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geomorfologi Danau di Sumatera

Geomorfologi  Danau Ranau, Danau Kerinci, Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan Danau Laut Tawar di Pulau Sumatera Milta. C, Dwiyanti.P, Kiesha. A, Merlina, M.Fikram. Miftah. A, Rahmatullah. T miltac31@gmail.com Fakultas Geografi  Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2020 BAB I PENDAHULUAN 1.1  Latar Belakang      Geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang bentuklahan, pembentuk muka bumi, baik di atas maupun di bawah muka air laut, yang menekankan pada genesis dan perkembangannya di masa datang, serta kaitannya dengan lingkungan (Verstappen, 1983). Objek kajian utama dari geomorfologi adalah bentuhlahan. Bentuklahan adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula (Marsoedi, 1996). Dapat disimpulkan bahwa geomorfologi mempelajari bentuk lahan dan proses yang mempengaruhi bentuklahan, serta menyelidiki hubungan timbal balik antara ben...

Stratigrafi dan Identifikasi Batuan pada Formasi Sambipitu, Kali Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

  Stratigrafi dan Identifikasi Batuan pada Formasi Sambipitu, Kali Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Stratigraphy and Identification of Rocks in the Sambipitu Formation, Ngalang River, Gedangsari District, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta Milta Charennina DEPARTEMEN GEOGRAFI LINGKUNGAN, FAKULTAS GEOGRAFI, UNIVERSITAS GADJAH MADA milta.c@mail.ugm.ac.id   ABSTRACT      The Sambipitu Formation is located in Ngalang River, Ngalang Village, Gedangsari District, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Province. Geographically located at coordinates X: 453132.115 mT and Y: 9128328,004 mU. Distribution of the Sambipitu Formation is parallel to the south of the Nglanggran Formation, in the southern foot of the Baturagung Subzone, but narrows and then disappears to the east. The thickness of the Sambipitu Formation is estimated to reach 230 meters.      Volcaniclastic materials that ma...